Mayoritas kerap gugup dan gagap melihat angka minoritas. Inilah yang membuat misalnya mayoritas penduduk Islam di wilayah tertentu ‘takut’ akan kristenisasi dan mayoritas penduduk Kristen di wilayah tertentu ‘takut’ akan Islamisasi. Sejumlah analis mutakhir kerap menggunakan ide ‘ketakutan budaya’ (cultural fear) sebagai titik berangkat dalam mengamati berbagai fenomena masyarakat modern. Gagasan ‘Islamisasi Eropa’ jelas lahir dari budaya ketakutan mayoritas.
Apa yang membuat budaya ketakutan berakar? Biasanya ketakutan itu menjadi kuat didukung oleh statistik pertumbuhan jumlah minoritas. Agar statistik menjadi sedikit lebih dramatis, biasa ada perbandingan misalnya perbandingan antara tahun 2000-an dan tahun 1960-an. [Perbandingan ini kerap lupa bahwa masyarakat itu bukan barang statis tetapi selalu berkembang/berubah dari waktu ke waktu]. Akan tetapi sebetulnya kecemasan mayoritas akan kehadiran minoritas lebih banyak menjadi-jadi gara-gara simbol yang menunjukan kehadiran minoritas. Dalam hubungan dengan Eropa misalnya, yang dilihat adalah banyaknya jumlah mesjid, banyaknya jumlah sekolah Islam, semakin banyaknya orang yang mengenakan jilbab di jalan-jalan atau banyaknya wacana seputar Islam di media publik.
Susahnya, pengamatan simbolis yang lalu melahirkan istilah seperti ‘islamisasi Eropa’ kerap tidak sejalan dengan makna istilah itu dalam arti ‘pengislaman Erope’ atau sederhananya Eropa diislamkan. Meskipun belakangan cukup banyak orang Eropa yang memeluk Islam, persentasinya boleh dibilang tak seberapa signifikan, paling tidak di negara-negara seperti Jerman, Inggris dan Perancis. Yang membuat kecemasan justru bertambah adalah sejumlah kasus militansi yang dihubungkan dengan sejumlah orang Eropa yang memeluk Islam, misalnya dalam kasus penangkapan Fritz Gelowicz dan Daniel Schneider, dua orang Jerman yang memeluk Islam dan ditengarai ikut berpengaruh dalam jaringan Islam militant di tahun 2007.
Kita lihat dari sisi yang lain. Ketakutan yang sama juga biasanya melanda wilayah Islam mayoritas yang dibungkus dalam istilah ‘kristenisasi’. Sheikh Ahmad Al Katani, presiden salah satu institusi penting yang menghasilkan banyak imam dan pengkhotbah Muslim di Libya, pernah di wawancara stasion TV Al-Jazeerah. Mengamati apa yang terjadi di Afrika dan berbagai belahan dunia di mana Muslim adalah mayoritas, Al Katani menunjuk pada kristenisasi didukung oleh statistik bahwa setiap jam 667 Muslim meninggalkan Islam dan memeluk agama Kristen; setiap hari, sekitar 16.000 Muslim memeluk kekristenan; dan setiap tahun sekitar 6 juta Muslim meninggalkan Islam dan menjadi Kristen.
Statistik, data dan kehadiran simbolik kelompok tertentu yang mencemaskan kelompok lain seperti tampak dalam isu islamisasi atau kristenisasi tentu saja masuk akal dalam berbagai segi. Tetapi, dua isu ini lebih menarik perhatian orang karena langsung berhubungan dengan dua peradaban besar dengan latar belakang sejarah sangat panjang yang kompleks dan penuh onak dan duri. Yang menjadi masalah adalah kerap rasa cemas dan takut bisa berubah menjadi motivasi politis yang mendasari berbagai rancangan kebijakan publik.
Kembali ke Eropa. Saya setuju dengan pandangan bahwa yang sementara terjadi sebetulnya bukanlah Islamisasi Eropa melainkan Eropanisasi Islam, seperti tampak dalam gagasan Euro-Islam yang dikembangkan Bassam Tibi. Yang dimaksud dalam ungkapan ini adalah bagaimana Islam tidak menjadi sesuatu yang asing tetapi bertumbuh dalam budaya dan nilai-nilai Eropa. Ini bukan gagasan baru karena pribumisasi Islam yang mempunyai kontak dengan budaya setempat terbukti berhasil di berbagai tempat seperti di Afrika dan Indonesia. Mungkin masih terlalu pagi untuk menduga bahwa Islam masa depan akan ditentukan oleh Eropanisasi Islam. Tetapi asimilasi budaya dalam sejarah tampak lebih memperkuat kohesi sosial daripada konflik yang menandai pertemuan antar budaya atau peradaban. Di samping itu, kekristenan di Eropa sebetulnya ‘beruntung’ karena adanya wacana publik tentang Islam di Eropa. Mengapa? Karena wacana ini membuat Eropa yang tampak sekular kembali bertanya tentang apa kiranya yang menjadi akar nilai Eropa.[Saya teringat akan buku yang ditulis bersama oleh Paus Benediktus XVI dan Marcello Pera berjudul Without Roots dengan pertanyaan mendasar seputar akar-akar budaya Eropa]. Kalau kekristenan diklaim sebagai akar Eropa maka diskusi publik tentang Islam di Eropa, hemat saya, justru membuka ruang baru bagi wacana baru tentang kekristenan di Eropa. Atau seperti dikatakan Philip Jenkins, perkembangan religius di Eropa memberi pelajaran penting tentang kodrat agama-agama besar dan juga tentang perubahan wajah kekristenan di Eropa. Meskipun ide analysis tentang Eropanisasi Islam hingga kini masih banyak dikritisi pemikir lain, saya pikir, kecenderungan membaca Islam di Eropa sebagai Islamisasi Eropa ujung-ujungnya hanya akan mengekalkan berbagai konflik dan dengan demikian memberi alasan kuat untuk sejumlah orang yang mengklaim ‘keinginan untuk berkuasa’ sebagai perjuangan atas nama agama tertentu. G.Faimau/2009
2 comments:
di eropa terjadi sekularisasi sebaliknya di belahan dunia lain seperti di Asia dan Afrika terjadi perkembangan fantastis agama2 minoritas.
Sedangkan di Amerika, masyarakatnya sendiri sibuk memerangi sekularisme dan perlahan-lahan namun pasti benturan dengan Xenophobia terhadap muslim pun juga berkembang.
Saya pernah membaca artikel bahwa kejadian-kejadian ini mengingat pada sejarah di Eropa dahulu mengenai ketakutan kaum katolik terhadap perkembangan protestant pada jaman reformasi abad ke 15.
Sepertinya fenomena ini tidak akan berakhir dan sulit tercapai jika ada kesepahaman antara majority dan minority mengenai batas-batas hak-hak mereka masing-masing atau dibaca juga sebagai Toleransi dan Pluralisme.
Sometime bener juga kata Karl Marx bahwa "Agama adalah racun masyarakat" meskipun pernyataan itu berbahaya juga.
btw i like ur writing...
if u have time may be we can discuss dalam lain kesempatan.
i mean "Sepertinya fenomena ini tidak akan berakhir dan sulit tercapai jika tidak ada kesepahaman antara majority dan minority mengenai batas-batas hak-hak mereka masing-masing atau dibaca juga sebagai Toleransi dan Pluralisme." sedikit ralat tulisa di atas
Post a Comment